x

Kisah dari Gorontalo: Mantan Pemburu yang Menjadi Pelindung Satwa

Kasus perburuan satwa di Indonesia cukup tinggi hingga berdampak pada populasi dan kelestarian satwa. Persoalan penting ini diangkat dan menjadi topik webinar di Hari Lingkungan Hidup Sedunia bertajuk “Kiisah Para Mantan Pemburu", pada Minggu (5/6/22).

Webinar hasil kolaborasi Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo dan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), menghadirkan dua mantan pemburu satwa dari Gorontalo dan Sulawesi Utara yakni Ardin Mokodompit dan Basri Lamasese.

Keduanya berbagi kisah. Ardin menceritakan aktivitas berburu yang dilakukan sejak kecil. Dari hanya menggunakan ketapel untuk mengisi waktu, hingga mengikuti kompetisi berburu bersenjata senapan angin.

“Hasil buruan untuk dimakan. Dari berburu ini saya tahu nama-nama burung lokal. Saya dirangkul oleh TNBNW dan menyadari bahwa satwa ini terutama burung yang sering saya tembak harus dijaga dan bisa mendatangkan uang tanpa membunuhnya,"kenang Ardin.

Ardin kemudian mengganti senapan dengan kamera dan mulai menyenangi fotografi burung. Dari aktivitasnya ini, dia berhasil mendokumentasikan dan mengidentifikasi sekitar 79 jenis burung di TNBNW.

Tak hanya itu, Ardin kini menjadi anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) TNBNW dan pemandu wisata di kelompok ekowisata Desa Tulabolo yang berbatasan dengan kawasan taman nasional.

Basri Lamasese juga mengungkapkan masa lalunya. Dia berburu burung di kawasan Batu Manangis Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara engan menggunakan jerat. Tak hanya dikonsumsi tapi juga diperdagangkan.

“ Dari ayam hutan sampai burung Maleo. Titik balik nya ketika saya dan teman-teman akhirnya sadar berburu itu salah dan kami membentuk kelompok tani hutan secara swadaya,"cerita Basri.

Kelompok Tani Hutan yang dibentuk  tahun 2018 berhasil membangun tempat penetasan sederhana untuk burung Maleo.

Direktur KKHSG KLHK Indra Exploitasia yang hadir dalam webinar mengapresiasi upaya Ardin dan Basri. Keduanya menjadi contoh baik bagi masyarakat dan membuktikan bahwa berburu bukan matapencaharian yang tepat.

“Indonesia punya 54 taman nasional, 500-an kawasan konservasi, dan sekitar enam ribu desa di kawasan penyangga. Ini jadi tantangan untuk merangkul warga desa sebagai penyangga dan penjaga hutannya,"kata Indra.

Sementara itu Kepala SPTN Wilayah II Doloduo TNBNW Agung Triono Hermawan menambahkan, pihaknya harus menyusun strategi khusus dalam mengelola kawasan, misalnya dengan pengelolaan berbasis tapak di 10 resort.

“Kami menbuat simpul-simpul kolaborasi saling menguntungkan dengan mengajak masyarakat dalam kegiatan konservasi. Ada solusi bagi mereka, misalnya memulihkan kawasan dengan menanam sebagian area dengan tanaman buah yang bisa dimanfaatkan masyarakat," katanya.

Ketua Simpul SIEJ Gorontalo Debby Mano mengatakan, webinar akan digelar secara berseri untuk mengangkat isu-isu lingkungan agar mendapatkan perhatian masyarakat.

“Harapannya isu lingkungan semakin sering dibahas untuk mencari solusi. Ini juga mendorong jurnalis memproduksi tulisan-tulisan yang mencerahkan dan berdampak,"katanya.

Webinar di Hari Lingkungan Hidup Sedunia bertajuk “Kiisah Para Mantan Pemburu", pada Minggu (5/6/22).
Share